Selasa, 24 Juni 2014
Jumat, 02 Mei 2014
#JUSTSAYING
THIS IS PURE MY OPINION. DON'T LIKE? BETTER DON'T READ!
#JUSTSHARING
It's been 1 year since we last saw each other. I miss you, and i won't be lying. I miss you to the freakin limit when i can't hide and handle it anymore. I miss you! I miss everything about you. I miss your hug, your kiss, your scent, your smile, your laughter, your voice and of course your face. Everything about you just seem so perfect that i can't help my self but miss and fall for you deeper. Oh god, wtf? What did i just say? I shouldn't be saying this yet im saying this lol. Okay, so the problem here is...........I want to see your face so bad! Ghaddd why can't i have the chance to meet you again? Why is fate being so cruel to me? Ottokeee</3 But it's okay, I think it's better if we won't be seeing each other, because i'm not fully recovered yet from the pain and wound you left me before. I guess it's okay (even my heart cries now). Isn't it ironic, huh? You left me, you abandoned me, you hurt me, yet here i'm still waiting and missing you like crazy. Okay this need to meet it's end, so gotta close this stupid #JUSTSHARING. See you later with my fics ^^
Rabu, 26 Maret 2014
[TEASER] Oh Jieun-ah..
"Kau harus berjanji padaku tidak
akan ada sexy dancers. Kau tahu
bagaimana aku tidak menyukai
membagi apa yang menjadi milikku."
"IU akan membunuhku, Hae-ah."
"Pastikan kau punya alasan yang
cukup baik untuk ini, Lee Hyuk Jae."
"Kau akan mati setelah ini, Lee Hyuk Jae.
Ingat perform Club No. 1?"
**Coming Soon**
Sabtu, 22 Maret 2014
[FANFICTION[ Sing Isn't Everything
Cast:
- Lee Ji Eun
- Lee Hyuk Jae
Genre: Romance
A/N:
The plot isn't entirely mine. My sister wrote it, i just asked her permission to post it. This is HERS. And the real story is casted by Kyuhyun not Hyukjae. Okay, Just enjoy. Losta love.
\
-Let the story begin-
*********
"Because sing isn't everything..."
********
“Aku tak bisa menyanyi lagi..”
“Mwo? Jangan bercanda, Jieun-ah. Candaanmu itu sudah keterlaluan, kau tahu?” Ujar Eunhyuk yang berdiri dihadapan Gadis tadi dengan suara serius.
“Mwo? Jangan bercanda, Jieun-ah. Candaanmu itu sudah keterlaluan, kau tahu?” Ujar Eunhyuk yang berdiri dihadapan Gadis tadi dengan suara serius.
“Aku tak bercanda. Aku memang harus berhenti bernya..-”
“YA! Jieun-ah, sudah ku bilang untuk tidak mengatakan hal seperti itu. Apa kau tuli?” Sepertinya emosi pria itu sudah mulai naik.
“Yang perlu kau tahu aku sedang tak main-main.” Ucap Gadis itu, serius.
“Jieun-ah..-”
“Ku rasa kau sudah tahu bahwa aku tak pernah tak serius jika itu bicara tentang hubungan kita juga..” Ucapan gadis itu terpotong, dia mendesah sebelum melanjutkan “Juga urusan menyanyi.”
“Jadi kau tak bercanda huh? Kau sedang tak bermain-main?”
Gadis itu hanya mengangguk pasrah, memberikan jawaban bahwa itu benar. Pria yang tadinya memasang muka jutek itu jatuh terduduk, tak percaya.
Tes.
Bulir bening mengalir membentuk sungai kecil dibeberapa bagian wajahnya. Mulutnya mengangga tak percaya. Dan, tubuhnya bergetar hebat.
“Tenanglah. Jangan menangis. Aku tak apa.” Bujuk pria itu.
*******
“Jadi, bagaimana dengan debutmu, Jieun-ah?” Tanya Eunhyuk sedikit ragu.
“Sepertinya akan dibatalkan.” Gadisyang menjadi penjawab itu menunduk dalam.
“Jieun-ah, jangan sedih. Mungkin penyanyi bukanlah masa depanmu. Got it?”
“Mianhae. Aku tak bisa, Oppa.” Gadis itu menunduk dalam, menyayangkan nasibnya.
“Jieun-ah, aku janji akan membantumu agar kau bisa. Percayalah. Tapi aku tak akan memaksamu, ini kan hidupmu” Ucap Eunhyuk pelan lalu memeluk Jieun, erat.
“Gomawo oppa. Saranghae."
“Sepertinya akan dibatalkan.” Gadisyang menjadi penjawab itu menunduk dalam.
“Jieun-ah, jangan sedih. Mungkin penyanyi bukanlah masa depanmu. Got it?”
“Mianhae. Aku tak bisa, Oppa.” Gadis itu menunduk dalam, menyayangkan nasibnya.
“Jieun-ah, aku janji akan membantumu agar kau bisa. Percayalah. Tapi aku tak akan memaksamu, ini kan hidupmu” Ucap Eunhyuk pelan lalu memeluk Jieun, erat.
“Gomawo oppa. Saranghae."
*******
“Lee Jieun-ssi, Maaf kami tak bisa melanjutkan rencana debutmu. Kau sudah tau alasannya bukan? Mianhae, bukannya kami tak menghargai usahamu selama ini. Tapi kami mohon mengertilah” Ucap pria paruh baya dihadapan Jieun dengan iba.
“Ne, Arraso. Mianhae sudah merepotkan agensi ini." Gadis itu mencoba tersenyum dibalik kepahitan yang dirasakannya.
“Ne, Arraso. Mianhae sudah merepotkan agensi ini." Gadis itu mencoba tersenyum dibalik kepahitan yang dirasakannya.
“Jeongmal Gwenchanayo. Aku harap kau berhasil di lain tempat. Tetaplah berkeja keras, Jieun-ssi.”
“Pasti. Yeong Bin ahjussi, aku permisi dulu. Annyeong!" Jieun lalu membungkuk sebentar dan segera meninggalkan ruangan besar itu.
*******
“MWO? Jadi mereka bilang rencana debutmu harus dihentikan?” Eunhyuk bertanya kaget. Ada sorot tak percaya disana, dimatanya.
“Ne. Lagipula untuk apa menerbitkan penyanyi yang sudah tak bisa membawakan sebuah lagu sepertiku.” Ucap Jieun pasrah.
“Jieun-ah, Siapa bilang? Kau bisa, pasti bisa!”
“Tidak bisa.” Tukas Jieun.
“Memangnya apa yang terjadi pada suaramu, Jieun-ah? Kenapa bisa membuat keahlianmu harus berhenti sebelum debut?” Tanya Eunhyuk penasaran.
“Ne. Lagipula untuk apa menerbitkan penyanyi yang sudah tak bisa membawakan sebuah lagu sepertiku.” Ucap Jieun pasrah.
“Jieun-ah, Siapa bilang? Kau bisa, pasti bisa!”
“Tidak bisa.” Tukas Jieun.
“Memangnya apa yang terjadi pada suaramu, Jieun-ah? Kenapa bisa membuat keahlianmu harus berhenti sebelum debut?” Tanya Eunhyuk penasaran.
“Pita suaraku infeksi.” Jawab Jieun singkat. Tangannya bergetar, tak sanggup mengingat hal itu.
“In..infeksi?” Ulang Eunhyuk.
“Ya.”
“Tapi bagaimana bisa? Aku rasa selama ini tak ada masalah dengan pita suaramu, kenapa bisa infeksi?”
“Itu juga karna kecerobahanku. Aku terlalu ingin debut, aku ingin orang tuaku bangga bahwa aku bisa jadi seorang penyanyi. Setiap hari aku selalu berlatih berulang kali untuk membawakan lagu yang akan ku pakai sebagai lagu debut sebanyak 15 kali. Dan ternyata kerja kerasku itu malah membuatku harus berhenti menjadi penyanyi." Jelas Jieun mulai terisak.
“Jadi pita suaramu infeksi karna terlalu sering menyanyi?”
“Ne, kau juga tahu kan oppa kalau aku pernah mengalami kecelakaan yang hampir merenggut suaraku. Dan kini ditambah dengan infeksi. Berakhir semuanya.” Jieun mengacak rambutnya frustasi, menenggelamkan wajahnya ke kedua telapak tangannya.
“Jieun-ah, sabarlah.”
“In..infeksi?” Ulang Eunhyuk.
“Ya.”
“Tapi bagaimana bisa? Aku rasa selama ini tak ada masalah dengan pita suaramu, kenapa bisa infeksi?”
“Itu juga karna kecerobahanku. Aku terlalu ingin debut, aku ingin orang tuaku bangga bahwa aku bisa jadi seorang penyanyi. Setiap hari aku selalu berlatih berulang kali untuk membawakan lagu yang akan ku pakai sebagai lagu debut sebanyak 15 kali. Dan ternyata kerja kerasku itu malah membuatku harus berhenti menjadi penyanyi." Jelas Jieun mulai terisak.
“Jadi pita suaramu infeksi karna terlalu sering menyanyi?”
“Ne, kau juga tahu kan oppa kalau aku pernah mengalami kecelakaan yang hampir merenggut suaraku. Dan kini ditambah dengan infeksi. Berakhir semuanya.” Jieun mengacak rambutnya frustasi, menenggelamkan wajahnya ke kedua telapak tangannya.
“Jieun-ah, sabarlah.”
“Kau tahu, Oppa? Saat pertama kali aku menderita infeksi pada pita suaraku aku tak tahu tentang hal itu. Aku terus menyanyi, hingga infeksi itu mulai menggila. Bayangkan dulu aku bisa membawakan 10 lagu tanpa henti dengan nada tinggi. Sekarang? Bahkan selesai membawakan satu lagu pun, tenggorakanku terasa sakit. Tepatnya di pita suara.” Ucap Jieun dengan suara serak.
“Jieun-ah, kau tak boleh seperti ini. Aku yakin kau bisa. Apa kau sudah tanyakan pada dokter apa ada jalan lain untuk menyembuhkan infeksinya?” Tanya Eunhyuk sambil mengelus lembut rambut Jieun.
“Sudah oppa.” Jawab gadis itu tertunduk.
“Lalu apa yang dokter katakan? Apa jalannya?” Tanya Eunhyuk kembali bersemangat.
“Sebenarnya jika infeksi pita suaraku tidak separah ini masih bisa disembuhkan dengan minum air putih, berhenti latihan menyanyi untuk sementara waktu, istirahat, dan menjauhi makanan berminyak. Sayangnya, infeksiku sudah parah, oppa.” Ucap Jieun dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Raut wajah Eunhyuk berubah dari semangat menjadi menekuk. Dia tak percaya harapan dari gaids satu-satunya yang ia cintai harus berhenti ditengah jalan. Itu sama saja membuat dunianya menjadi gelap.
“Jieun-ah, kau tak boleh seperti ini. Aku yakin kau bisa. Apa kau sudah tanyakan pada dokter apa ada jalan lain untuk menyembuhkan infeksinya?” Tanya Eunhyuk sambil mengelus lembut rambut Jieun.
“Sudah oppa.” Jawab gadis itu tertunduk.
“Lalu apa yang dokter katakan? Apa jalannya?” Tanya Eunhyuk kembali bersemangat.
“Sebenarnya jika infeksi pita suaraku tidak separah ini masih bisa disembuhkan dengan minum air putih, berhenti latihan menyanyi untuk sementara waktu, istirahat, dan menjauhi makanan berminyak. Sayangnya, infeksiku sudah parah, oppa.” Ucap Jieun dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Raut wajah Eunhyuk berubah dari semangat menjadi menekuk. Dia tak percaya harapan dari gaids satu-satunya yang ia cintai harus berhenti ditengah jalan. Itu sama saja membuat dunianya menjadi gelap.
********
Tik.
Tik.
Tik.
Sunyi. Hanya suara hujan yang menyapu kota Seoul yang terdengar.
“Jieun-ah..” Panggil Eunhyuk pelan.
Hening. Tak ada jawaban. Semenjak infeksi menyerang pita suaranya, Jieun lebih banyak diam. Tidak, bukan karna dia sudah tak bisa bicara. Hanya saja dia belum bisa menerima kenyataan bahwa dia tak bisa menjadi penyanyi seperti fantasinya.
“Jieun-ah..tolong jangan seperti ini." Suara Eunhyuk mulai bergetar.
“Jieun-ah..tolong jangan seperti ini." Suara Eunhyuk mulai bergetar.
“Jieun-ah? Aku tahu kau mendengarku, tapi kenapa kau tak bersuara? Jieun-ah.. Kau
menyiksaku jika seperti ini." Ucap Eunhyuk karna tak mendapat jawaban.
“Mianhae." Ucap Jieun singkat dengan tatapan datar yang kosong.
“Aku tak perlu kata maaf, Jieun-ah. Aku hanya perlu kau seperti dulu. Apa susahnya? Penyanyi bukanlah segalanya Jieun-ah. Kau bisa meneruskan usaha ibumu. Bahkan kau bisa menjadi desaigner. Tapi, kenapa kau lebih memilih seperti ini? Kau sudah membuang semua waktu hidupmu. Apa kau ingin begini terus sampai kau berubah menjadi keriput? Jujur saja, aku tak peduli apa kau bisa menyanyi atau tidak, apa kau bisa menjadi penyanyi atau tidak. Bagiku aku hanya perlu jika kau menjadi Jieun-ku yang
dulu. Apa itu terlalu sulit, huh? Apa itu terlalu..-”
Perkataan Eunhyuk terhenti. Jieun melemparkan tubuhnya dalam pelukan Eunhyuk. Hangat.
“Berhenti berkata seperti itu. Maafkan jika aku sudah menyiksamu. Aku hanya perlu waktu untuk terbiasa dengan semua ini. Aku masih akan tetap menyanyi walaupun hanya lewat hati. Setelah ini, aku akan meneruskan usaha ibuku. Dan aku mohon, tetaplah disisiku. Jika kau tak disini, aku tak tahu apa saat ini aku masih tahu caranya bernapas. Menyanyi adalah sepertiga hidupku. Tapi kau, adalah duapertiga hidupku. Kau mengerti oppa?” Tanya Jieun masih memeluk Eunhyuk erat.
“Aku tak perlu kata maaf, Jieun-ah. Aku hanya perlu kau seperti dulu. Apa susahnya? Penyanyi bukanlah segalanya Jieun-ah. Kau bisa meneruskan usaha ibumu. Bahkan kau bisa menjadi desaigner. Tapi, kenapa kau lebih memilih seperti ini? Kau sudah membuang semua waktu hidupmu. Apa kau ingin begini terus sampai kau berubah menjadi keriput? Jujur saja, aku tak peduli apa kau bisa menyanyi atau tidak, apa kau bisa menjadi penyanyi atau tidak. Bagiku aku hanya perlu jika kau menjadi Jieun-ku yang
dulu. Apa itu terlalu sulit, huh? Apa itu terlalu..-”
Perkataan Eunhyuk terhenti. Jieun melemparkan tubuhnya dalam pelukan Eunhyuk. Hangat.
“Berhenti berkata seperti itu. Maafkan jika aku sudah menyiksamu. Aku hanya perlu waktu untuk terbiasa dengan semua ini. Aku masih akan tetap menyanyi walaupun hanya lewat hati. Setelah ini, aku akan meneruskan usaha ibuku. Dan aku mohon, tetaplah disisiku. Jika kau tak disini, aku tak tahu apa saat ini aku masih tahu caranya bernapas. Menyanyi adalah sepertiga hidupku. Tapi kau, adalah duapertiga hidupku. Kau mengerti oppa?” Tanya Jieun masih memeluk Eunhyuk erat.
Eunhyuk mengangguk mengerti, “Ne, aku mengerti. Tapi, kau harus berjanji tidak seperti ini lagi. Aku tak bisa melihatmua seperti ini. Itu menyakitkan. Kau tahu? Aku mencintaimu, adi jangan buat aku tersiksa." Ucap Eunhyuk pelan.
“Tak akan lagi. Maafkan aku..”
“Sudah kumaafkan, Jieun-ah.”
“Gomawo. Saranghae, Jeongmal Saranghae." Bisik Jieun pelan.
“Gomawo. Saranghae, Jeongmal Saranghae." Bisik Jieun pelan.
*******
5 years later..
Jieun saat ini sudah merangkap sebagai seorang Designer di butik Ibunya di Seoul. Bahkan saat ini dia sudah menikah, dengan Eunhyuk tentunya. Berbeda dengan Jieun, Eunhyuk telah menjadi penerus usaha ayahnya, CEO Sebuah perusahaan property.
“Oppa, cepat pulang ya. Jangan mentang-mentang kau sibuk dengan perusahaanmu kau jadi melupakanku." Ucap Jieun jengkel.
“Tentu saja, chagi. Aku tak akan melupakanmu. Kau hidupku, kau tahu?” Kata Eunhyuk, mengedipkan sebelah matanya pada istrinya tersebut.
“Ya ya, aku tahu. Tapi prilakumu tak menunjukan bahwa itu benar, Oppa." Sungut Jieun kesal.
“Prilaku yang mana, Nyonya Lee?” Alis Eunhyuk berkerut.
“Banyak!”
“Aish, mianhae. Ku usahakan agar tak terulang lagi. Jangan marah ya, aku mencintaimu.”
“Aku tak marah, Oppa. Aku hanya kesal. Oke?”
“Apapun itu, aku minta maaf.”
“Kuterima permintaan maafku, dengan satu syarat..”
“Mwo? Syarat?” Ulang Eunhyuk, bukan karna tuli tapi sekedar memastikan.
“Ne. Kau harus mengajakku ke Namsan Tower akhir pekan nanti.”
“Tap..-”
“Titik!”
“Baiklah, ku usahakan. Tapi, aku harus berangkat saat ini juga. Aku pergi chagi. Anyeong.” Eunhyuk mengecup bibir istrinya singkat lalu segera menuju garasi. Menancap gas dan mobil audinya pun siap membelah jalanan kota Seoul.
=THE END=
Sabtu, 15 Maret 2014
Sabtu, 22 Februari 2014
[FANFICTION] Let them cry for us?
Author: alanis (@hyukcrews)
Cast:
- Lee Hyuk Jae (Eunhyuk)
- Lee Ji Eun (IU)
Genre: Romance
A/N:
Drable. Dont read because it might leave you hanging. And don't read if you don't like this couple.
Let the story begin....
*****
Just let them talk if they want to..
That don't bother me..
I'm gonna keep on till the whole wide world knows..
That i really love you, and you really love me..
And let them whisper for they don't know what's between you and i..
We have the kind of love that's so strong..
We'd be together from now on..
They say that, gossip comes from the devil's workshop..
We'd be together from now on..
They say that, gossip comes from the devil's workshop..
And only true love can make it stop..
They'll envious, of everything that we do..
But I wanna say it's wonderful..
But I wanna say it's wonderful..
When you love someone..
And that someone really loves you..
*****
"Oppa.." IU berkata sambil memeluk lengan Eunhyuk mesra.
"Waeyo?" Eunhyuk bertanya pelan sambil memberikan senyum manisnya pada kekasihnya itu.
"Kapan kita bisa seperti mereka huh?" Tanya IU menunjuk sepasang kekasih yang tengah berjalan bergandengan tangan.
"Ketika waktunya sudah tiba." Eunhyuk menjawab singkat.
"Aku
ingin seperti mereka." IU berkata pelan. Tatapannya masih terfokus pada
pasangan kekasih itu. Ia benar-benar iri pada mereka. Ketika pasangan
lain bisa dengan mudahnya bergandengan tangan di depan publik, disinilah
IU dan Eunhyuk, diam bergandengan tangan di dalam Mobil Audi
Eunhyuk menyaksikan indahnya malam Kota Seoul. Ketika pasangan lain bisa
dengan mudahnya berkencan di tempat umum, maka IU dan Eunhyuk tak bisa.
Kencan mereka selalu dihabiskan di apartemen IU atau di dalam mobil,
seperti sekarang karena takut ketahuan publik. Konsekuensi menjadi
public figure.
"Babe.."
"Aku
iri oppa. Kapan kita bisa go public? Aku ingin memamerkan pada seluruh
dunia bahwa kau adalah milikku, dan aku adalah milikmu. Aku bosan
seperti ini."
"Kau bosan denganku huh?"
"Bukan begitu oppa. Aku bosan menghabiskan kencan kita di dalam mobil. Aku ingin merasakan kencan yang sebenarnya oppa."
"Kau tahu itu akan sulit babe.." Eunhyuk berkata pelan, memalingkan tatapannya kearah lain.
"Apanya yang sulit? Kita hanya perlu melakukan press conference, dan mengumumkan hubungan kita."
"Kau tak mengerti." Eunhyuk mengacak rambutnya frustasi, benci kemana topik ini akan mengarah.
"Aku mengerti. Kau yang tak mengerti." IU berteriak, melepaskan genggamannya pada lengan Eunhyuk.
"Jieun-ah, kau tahu bagaimana fans ak-"
"Fans
fans fans fans. Kau selalu mengutamakan fansmu. Apa mereka lebih
berharga dibanding aku huh?" IU bertanya dengan mata berkaca-kaca. Benci
tentang fakta bahwa Eunhyuk akan selalu mengalah demi fansnya.
"Tanpa mereka aku bukan siapa-siapa. Kau harusnya mengerti itu."
"Terserah. I'm leaving now." IU berkata marah. Membuka pintu mobil dan keluar setelahnya. Meninggalkan Eunhyuk sendiri di dalamnya.
"Kau tak mengerti Jieun-ah. Inilah hidup kita. Kita harus selalu mengalah pada fans. Seharusnya kau tahu itu sesaat setelah kau memasuki dunia ini."
******
"ARGHHHHHHH!"
"Sampai
kapan oppa? Sampai kapan? Huhuhuhu.." IU menangis terisak mengingat
percakapannya dengan Eunhyuk tadi. Sadar bahwa Eunhyuk tak akan pernah
bisa mengabulkan keinginannya.
"Aku
capek oppa. Kenapa selalu kita yang mengalah untuk fan? Kenapa selalu
kita yang menderita untuk fan? Kenapa selalu kita yang mengorbankan
kebahagiaan kita? Kenapa selalu kita yang menangis untuk mereka? Kenapa?
Huh.."
*****
"Hae-ah.." Eunhyuk memaggil sahabat karibnya itu lesuh.
"Uhh..Hyuk?
Ada apa?" Dong Hae bertanya dengan mata setengah tertutupnya. Ia tengah
berada di alam mimpinya ketika Eunhyuk masuk ke dalam kamarnya dan
memanggilnya dari alam mimpi.
"Jieun."
"Jieun? IU? IU pacarmu? Ada apa dengannya?"
"Seperti biasa, ia berkata ingin go public."
"Lalu? Kau menjawab apa?"
"Aku menolak untuk go public. Kau tahu bagaimana aku Hae-ah." Eunhyuk mendesah kecil.
"Apa alasannya sama?"
"Ya. Kau tahu aku sangat mencintai ELF Hae-ah. Aku tak ingin mereka menangis saat mengetahui berita ini. Aku juga tak ingin mereka merasa terkhianati setelah mengetahui hubunganku dengan IU."
"Yang kau lakukan sekarang pun tetap membuat mereka merasa terkhianati. Apa kau pikir menyembunyikan hubunganmu itu tidak membuat mereka merasa terkhinati? akan lebih bagus apabila mereka tahu sejak sekarang. Daripada kau terus membohongi mereka seperti sekarang." Donghae menasehati Eunhyuk. Sudah lebih dari 10 kali Eunhyuk datang kepadanya. Meminta solusi untuk masalahnya itu. Dan sudah lebih dari 10 kali pula Donghae menyarankan untuk go public saja. Tapi karena dasarnya Eunhyuk memang keras kepala, ia terus menolak saran Donghae tsb.
"Aku tetap tak bisa Hae-ah. Itu tak mudah. Aku tak ingin melihat para ELF yang mencintaiku setulus hati menang-"
"Let them cry for us. Just once."
"Let them cry for us?" Eunhyuk bertanya bingung dengan ucapan Donghae barusan.
"Ya. Biarkan mereka menangis untuk kita. Kita akan membuat mereka tertawa bahagia setelahnya, Kita akan kembalikan senyum mereka setelah deraian airmata yang mereka keluarkan untuk kita."
"Aku tak mengerti."
"Apa yang kumaksud adalah-"
This song is dedicated to the worlds biggest fan club
The elf, my girls, my angels.
The elf, my girls, my angels.
Ponsel
Eunhyuk tiba-tiba berdering, menandakan telepon masuk. Memotong
perkataan Donghae. Eunhyuk segera mengambil ponselnya di saku belakang,
dan mengangkat alisnya ketika membaca Caller ID-nya. IU.
"Yoboseyo?"
"Oppa...."
*******
"Oppa..." IU berkata pelan sembari memandang layar ponselnya yang lain. Memandang foto mereka. Foto Eunhyuk dan IU.
"Wae? Aku kira kau masih marah."
"Mianhae." Ucap IU pelan masih dengan tatapan terfokus pada layar ponselnya.
"Mianhae? Untuk apa?"
"Let them give way to us."
"Apa maksudmu?" Eunhyuk bertanya bingung, tak mengerti maksud perkataan IU.
"Let them talk bad."
"Mwo?"
"Let them cry for us."
"Jieun-ah, apa yang kau bicarakan huh?"
"Mianhae." IU berkata pelan sebelum mematikan sambungan telpon dan memencet tombol "Send" pada ponselnya yang lain di waktu bersamaan. Mengirimkan foto yang akan menimbulkan kericuhan besar setelah orang-orang melihatnya. Mengirimkan foto yang akan mengubah imej-nya setelah ini. Mengirimkan foto yang akan membuatnya menerima caci maki. Mengirimkan foto yang akan memberikannya jalan untuk go public bersama kekasih yang dicintainya itu.
"Mianhae oppa. Let them cry for us. Once."
- END -
Kamis, 20 Februari 2014
[FANFICTION] Can i be your boy? - Chapter 1
Cast:
- Kwon Jiyong
- Sandara Park
- Big Bang and 2NE1 members as well
Genre: Romance
A/n: this is the first daragon's fanfiction i created, but i just got to post it know since i just found the doc in my lappy yesterday and decided to post it. Sorry for the creepy story!! HENGSHO^__^
First chapter has started
********
I zig-zag unexpected, why am I always like this?
When you get closer to me, I took a step back, I'm all confused
It was a knockdown total,
What should I do?
I do not know if it's me that weird
When it was all over,
******
all it takes is a smile
You for making me reset, Be my girl
I like a defective battery can not be used
You pull me left and right like a magnet
One thing is clear: this is the way love works
We just push and pull each other
Be my girl
It's really a question, we balanced
When you look in the mirror we are the same,
Be my girl
******
Jiyong POV
Huh aku kesal sekali hari ini. Mungkin ini adalah hari tersialku. Skripsiku belum selesai padahal lusa sudah harus dikumpul, ayahku terus memarahiku karna tagihan kartu kreditku terus melonjak setiap bulannya, ditambah pula dengan ibu yang terus memaksaku untuk membawa pacarku ke rumah, dan masih banyak lagi list masalah yang harus kupikirkan. Ini sungguh menyebalkan. Aku bersumpah, kepalaku akan botak karna memikirkan semua masalah-masalah ini. Wtf. Tapi dari semua masalah-masalah brengsek itu, yang membuatku hampir gila adalah masalah ibuku yang terus menanyakan pacarku.
Uh ayolah, aku masih mahasiswa, umurku masih 24 tahun, dan aku bahkan belum bisa hidup mandiri, aku masih memakai uang ayahku. Masih terus menghambur-hamburkan harta keluargaku untuk berfoyah-foyah, masih belum punya pekerjaan, tapi kenapa ibuku terus mendesakku membawa pacar sih. Apa kepala ibuku hanya dipenuhi dengan pikiran konyol itu saja?!!?!! Ayolah dia kan bisa meminta Dami noona yang suka bergonta-ganti pacar itu untuk membawa pacarnya kepada ibuku. Kenapa harus aku yang diteror terus dengan hal-hal berbau pacar sih. Jujur saja, aku tak mempunyai pacar. Bukan karna aku tak laku, tak jantan atau apalah kata orang, tapi aku hanya tidak suka dengan perempuan. Bagiku perempuan hanyalah makhluk tuhan yang merepotkan saja. Kerjaan mereka hanya merengek, mengeluh, bermanja-manjaan. Dan yang paling membuatku muak adalah mayoritas perempuan itu sangat suka shopping dan salon. Ya tentu saja aku tahu itu, ibu dan noona-ku terus berpergian hanya untuk shopping dan salon. Cih. Itulah kenapa aku muak dengan perempuan. Aku yakin perempuan hanya akan merusak gendang telingaku, dan paling parahnya akan menghancurkan isi dompetku. Dan ya, aku juga memiliki kenangan buruk dengan perempuan. Tapi dahsyatnya, ibuku terus memaksaku mengenalkan pacarku. Membawa pacarku yang tidak akan pernah ada. Bahkan dia berniat menjodohkanku dengan anak kerabatnya jika aku tetap tak mengenalkan pacarku padanya dalam 3 hari kedepan. Hah, kenapa orang tua jaman sekarang masih seperti itu sih aish. Kuno sekali.
"Ji..."
"Wae?" Tanyaku malas sambil membalikkan badanku melihat orang yang memanggilku itu. Tak tahukah dia sekarang aku sedang galau T__T
"Kau kenapa?" Tanya Youngbae -sahabatku sambil duduk disebelahku dan mengambil beberapa kentang gorengku untuk dimakan heungg.
"Ibuku, dia berniat untuk...ahhhh...menyebalkan sekali dia itu. Dia pikir aku masih anak kecil sehingga harus dijodohkan cih."
"Mwo? Dijodohkan? Hahaha ibumu benar-benar kuno, masih saja memakai tradisi orang jaman dulu ckck." Kata Yong Bae.
Yong Bae saja menertawakan kegilaan ibuku itu. Perjodohan?
Jaman secanggih ini masih memakai tradisi kuno itu? Benar-benar memiluhhkan.
"Iya katanya aku akan dijodohkan jika dalam 3 hari ini jika aku tak membawa pacarku padanya. Menyebalkan sekali."
"Bagaimana kalo aku mengenalkan kau pada gadis-gadis cantik untuk kau kenalkan pada ibumu?" Katanya enteng sambil menyeruput coffee latte-ku. Sungguh jika aku sedang tak galau seperti ini, aku pasti akan menendangnya keras-keras karna terus-terusan mengambil makananku.
"Demi tuhan Dong Yong Bae, sudah berapa lama kau menjadi sahabatku sih. Kau tahu kan seberapa muaknya aku pada makhluk tuhan bernama 'Perempuan' itu. Mereka itu menyebalkan, memuakkan dan mematikan. Dan kau juga tahu aku memiliki masa lalu menyuramkan dengan perempuan. ckck"
"Kau berlebihan."
"Ani, kau tahu kan bagaimana mayoritas perempuan kebanyakan. Salon, Shopping, Spa, blablablabla. Itu hanya akan menghabiskan isi dompetmu kau tau."
"Cih. Tidak semua perempuan seperti itu bodoh!"
"Gadis-gadis ini berbeda. Kujamin 1001%. Mereka tidak menyebalkan, tidak memuakkan dan yang paling penting mereka tidak mematikan. Mereka cantik, dan kuyakin tidak matre seperti yang kau takutkan." Sambungnya cepat dengan ada nada penekanan disetiap katanya.
"Kau gila.."
"Kau lebih gila. Ayolah.. Kau takkan menyesalinya Kwon Jiyong! Bahkan kau akan berterima kasih padaku setelah ini."
"Aish aish, baiklah. Aku akan mengikuti saranmu kali ini karna kau adalah sahabatku. Tapi jika aku malah berakhir muak dengan saranmu ini, bersiaplah aku akan menendangmu sampai kau tak terlihat lagi di dunia ini kau tahu."
"Terserah!!"
"Oh god. Aku bahkan sudah bisa membayangkan bagaimana bawelnya gadis-gadis itu assdghjl.. Pasti mereka akan mengatakan 'Oppa kau blablablabla', pasti mereka akan blablablabla, asdghskdlg memuakkan."
"Kau berlebihan. Yasudah kalau begitu datanglah sebentar di Twosome place jam 8 malam, berpakaian yang cool okay. Show us the style of Kwon Jiyong yeah." katanya sambil berlalu pergi, tapi sebelum itu dia menyempatkan untuk mencuil kentang gorengku lagi. Ckck.
"Terserah padamu heol."
*******
Ya disinilah aku sekarang. Duduk di dalam sebuah kafe mewah bertemankan Yong Bae yang asik dengan smartphone-nya, menunggu gadis-gadis yang ingin dikenalkan Yong Bae padaku, yang kuyakini 100% akan sama dengan gadis-gadis yang kubayangkan selama ini. Belum bertemu saja mereka sudah menyebalkan seperti ini. Membuatku menunggu. Aish siapa yang takkan sebal menunggu seperti ini hah. Apalagi ini sudah lewat setengah jam. Dasar gadis-gadis karet.
"Sudah lama menunggu kami hmm??" Tanya seorang gadis berambut merah pada Yong Bae sambil menarik kursi di depanku.
"Ani. Kau sendiri Bom? Mana temanmu yang katanya cantik-cantik itu huh?" tanya Yong Bae yang entah sejak kapan sudah tidak sibuk dengan smartphone-nya itu.
Oh nama gadis ini adalah Bom, setidaknya gadis ini cantik menurutku. Cantik bukan berarti aku tertarik ya.
"Hh, tenanglah. Mereka akan datang kok. hanya something important they can't leave hehe."
"Oh, kau ingin pesan apa?"
"Aku pesan Ice coffee oreo saja."
"Baiklah. Oh iya, perkenalkan ini sahabatku yang sering kuceritakan itu, namanya Kwon Jiyong. Dan Ji, kenalkan ini Park Bom."
"Ah ne, Kwon Ji Yong imnida. Bangapseumnida" Kataku berbasa-basi. Ya setidaknya menghargai kehadiran gadis ini didepanku.
"Ah ye. nice to meet you too Jiyong-ssi...." kata Bom sambil tersenyum ramah padaku.
Well, dia cantik. Tapi entah kenapa dia tidak memilki daya tarik yang membuatku ingin memilikinya. Oke aku sedikit pemilih sekarang. Well, aku memang sudah pemilih sejak dulu. Kkkk. That's me.
"Sudah lama menunggu kami hmm??" Tanya seorang gadis berambut merah pada Yong Bae sambil menarik kursi di depanku.
"Ani. Kau sendiri Bom? Mana temanmu yang katanya cantik-cantik itu huh?" tanya Yong Bae yang entah sejak kapan sudah tidak sibuk dengan smartphone-nya itu.
Oh nama gadis ini adalah Bom, setidaknya gadis ini cantik menurutku. Cantik bukan berarti aku tertarik ya.
"Hh, tenanglah. Mereka akan datang kok. hanya something important they can't leave hehe."
"Oh, kau ingin pesan apa?"
"Aku pesan Ice coffee oreo saja."
"Baiklah. Oh iya, perkenalkan ini sahabatku yang sering kuceritakan itu, namanya Kwon Jiyong. Dan Ji, kenalkan ini Park Bom."
"Ah ne, Kwon Ji Yong imnida. Bangapseumnida" Kataku berbasa-basi. Ya setidaknya menghargai kehadiran gadis ini didepanku.
"Ah ye. nice to meet you too Jiyong-ssi...." kata Bom sambil tersenyum ramah padaku.
Well, dia cantik. Tapi entah kenapa dia tidak memilki daya tarik yang membuatku ingin memilikinya. Oke aku sedikit pemilih sekarang. Well, aku memang sudah pemilih sejak dulu. Kkkk. That's me.
"Hai, apakah kalian sudah lama menunggu?" Sebuah suara asing tiba-tiba terdengar, Mungkin teman Bom yang dikatakannya sebelumnya. Hm.
"Ahh Dara-yah kau sudah datang. Mana Chaerin dan Minzy??" Tanya Bom. Aku lantas mengalihkan tatapanku untuk melihat temannya itu. Dan
JACKPOT!!!!
Astaga..
Sungguh demi tuhan..
Gadis itu sangat cantik..
Asdfghjkl..
Wajahnya itu terlihat sangat sempurna..
Senyumnya itu.. Oh my god T__T
Ahh dia memiliki daya tarik yang tadi kusebutkan. Aish jinjjaaaa T_T
Asdffhjkl..
Lidahku keluh sekarang. Aku bahkan tidak bisa mengalihkan tatapan mataku darinya, tidak ingin melepaskan tatapanku dari wajah sempurna itu. Takut kalau dia akan menghilang sekali aku memalingkan tatapanku. Oh god, kenapa aku bisa jatuh hati padanya sih, padahal aku kan baru mengenalnya sekarang T_T
"Chaerin tiba-tiba diajak kencan oleh Seungri, dan kau tahu kan bagaimana dia menggilai si tengik itu, jadi tak mungkin dia melewatkan kencan idaman itu ckck." katanya sambil memajukan bibirnya, pertanda sedang kesal mungkin. Dan itu terlihat sangat CUTE untukku. Demi tuhan, itu sangat cute. Dan aku bisa saja mati karna jantungku yang tidak bisa berhenti berdetak setiap melihat gadis cantik nan sempurna bernama Dara itu.
GAWDDDD
"Dasar gadis tengik itu, tega-teganya dia membatalkan janji denganku hanya karna si cecunguk Seungri. Dan bagaimana dengan Minzy? Apa dia sedang latihan dance lagi?" Tanya Bom terdengar sedikit kecewa, mungkin karna gadis yang bernama Chaerin itu tak datang.
"Ani, dia tidak bisa datang karna ibunya tidak mengijinkannya haha. Kasihan sekali dia memiliki orang tua yang protective seperti itu hihihi." kata Dara sambil tertawa kecil.
OH GOD!!!
Sempurna!!
Dia terlihat semakin sempurna dengan tertawa kecil seperti itu. Aishhhhh aku tidak bisa memalingkan mataku darinya, bahkan aku berani bertaruh aku tidak berkedip sedari tadi. Oh goddd!! kenapa sekarang aku menggilai gadis ini, padahal aku kan seseorang yang muak dengan makhluk tuhan bernama 'perempuan' T___T
"YAAHH!! Ji kenapa tatapanmu seperti itu pada Dara hah?" Tanya Yong Bae sambil memukulku pelan, membangunkanku dari lamunan kekagumanku pada Dara.
"M..m..mwo?? Ah mianhae, aku hanya mengagumi kecantikan alami Dara-ssi kekekeke."
"Aish temanmu ini sangat blakblak-an Bae. Ohiya, Dara perkenalkan ini temanku Yong Bae, dan ini temannya Jiyong"
"Ahh ye. Sandara Park imnida. Bangapseumnida Yongbae-ssi, bangapseumnida Jiyong-
ssi, ohya terima kasih untuk pujianmu barusan Jiyong-ssi.." Kata Dara sambil tersenyum dan menarik kursi disampingku. OH GODDDD!!!! Ini terasa seperti surga. Gadis yang kugilai ini duduk disampingku. Aku rasa aku akan mati sekarang T__T
"Ji, tolong jangan pandangi Dara seperti itu. Kau terlihat seperti ingin memakannya cih.." Ucap Yong Bae sambil terkikik. Aigo, that guy.
"Mw-mwo? haha.." Kataku cengengesan. Jujur aku tak bisa mengontrol diriku sendiri di depan Dara, gadis yang kugilai pada pandangan pertama ini T__T
"Ah, gwenchana. Aku tak apa dipandangi seperti itu kok." kata Dara sambil tersenyum, dan sekali lagi itu berhasil membuatku GILAAAAAAAAA!!!
"YAAHH!! Ji kenapa tatapanmu seperti itu pada Dara hah?" Tanya Yong Bae sambil memukulku pelan, membangunkanku dari lamunan kekagumanku pada Dara.
"M..m..mwo?? Ah mianhae, aku hanya mengagumi kecantikan alami Dara-ssi kekekeke."
"Aish temanmu ini sangat blakblak-an Bae. Ohiya, Dara perkenalkan ini temanku Yong Bae, dan ini temannya Jiyong"
"Ahh ye. Sandara Park imnida. Bangapseumnida Yongbae-ssi, bangapseumnida Jiyong-
ssi, ohya terima kasih untuk pujianmu barusan Jiyong-ssi.." Kata Dara sambil tersenyum dan menarik kursi disampingku. OH GODDDD!!!! Ini terasa seperti surga. Gadis yang kugilai ini duduk disampingku. Aku rasa aku akan mati sekarang T__T
"Ji, tolong jangan pandangi Dara seperti itu. Kau terlihat seperti ingin memakannya cih.." Ucap Yong Bae sambil terkikik. Aigo, that guy.
"Mw-mwo? haha.." Kataku cengengesan. Jujur aku tak bisa mengontrol diriku sendiri di depan Dara, gadis yang kugilai pada pandangan pertama ini T__T
"Ah, gwenchana. Aku tak apa dipandangi seperti itu kok." kata Dara sambil tersenyum, dan sekali lagi itu berhasil membuatku GILAAAAAAAAA!!!
Sekali lagi, membuatku GILAAAAAAAAAAAAAA!!!!
OH GODDD!!!
AKU HARUS BAGAIMANA SEKARANG!?!?
TOLONG AKU!! AKU TAK BISA BERNAFASSSS MELIHAT DARAA *oke ini lebay-__-*
"Ohiya, ada apa kau mengajakku dan temanku kemari Bae?" Tanya Bom tiba-tiba mengagetkanku dari alam kekagumanku pada Dara lagi-__-
"Ah, aku hanya ingin mengenal gadis-gadis cantik hehehe."
"Aish, kau ini!" Kata Bom sambil mencubit lengan Yong Bae pelan.
Dan percakapan pun terjadi diantara kami, lebih tepatnya 'mereka'. Karna jujur aku tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, dan aku tak tertarik. Aku hanya terus
memandangi wajah Dara, dan hanya menjawab Ne atau Ani setiap mereka bertanya padaku=__=
"Ah, sudah jam 10. Aish kami harus pulang. Kalo begitu kami permisi dulu. Annye-"
"Kami antarkan kalian! Bagaimana?" Tanyaku cepat memutus perkataan Bom. Ya, aku ingin mengantar mereka. Lebih tepatnya aku ingin mengantar Dara. Aku tidak perduli bagaimana aku terlihat sekarang. Aku hanya ingin mengantar Dara sekarang.
"Mwo? Ah tak perlu. Kami bisa naik tak-"
"Disini sulit mencari taksi. Lebih baik kami antarkan saja. Ayolah! Sekaligus tanda perkenalanku pada kalian." Ucapku sekali lagi memotong perkataan Bom. Aish, aku terlihat seperti seorang anak kecil yang memohon-mohon sekarang hanya karna ingin mengantar Dara. Aish, kemana Imej-ku selama ini sebagai seorang Kwon Jiyong yang cool sih. Whatever. GOODBYE DIGNITY!
"Ah baiklah. Bagaimana Dara?"
"Aku sih terserah saja."
"Baiklah kalau begitu aku akan mengantarkanmu Bom, dan Ji tolong antarkan Dara." Kata Yong Bae sambil memainkan matanya padaku, Aish sepertinya dia tahu kalau aku menyukai Ah NO, aku menggilai Dara. Terima kasih Dong Yong Bae. Aku menyayangimuuuu :-*
"Mwo? Kita pulang terpisah? Aku sih terserah, tapi Dara? Apa tak apa?"
"Ayolah Dara. Aku janji akan mengantarmu selamat sampai tujuan. Oke?" Kataku pada Dara dengan mata anak kucing, memohon padanya. Oh sh!t. Kemana image cool-ku -,-
"Baiklah." katanya singkat, sambil menarik lenganku.
KYAAAAAAA!!!!!!!!!!!!
Aku akan pulang dengannya!!!!!
Omaigoodddddd!!!
OH MY FUCKIN GOD!!!!
Aku sangat senang, terlebih dia menarik lenganku.Aku tak jadi menobatkan hari ini sebagai hari tersial. Hari ini adalah hari terindah. Hari terindah sepanjang hidupku diduniaaa.......Terima kasih tuhan!! Aku rasa aku akan bermimpi indah malam ini.
KYAAAAAAAAA!!!
- TBC -
A/n: I've said it before. THIS IS A CREEPY STORY!!! OTL IM SO EMBRASSED /HIDES/ See'ya~ Next post will be either Give Me Second Chance Chapter 5 or If Only Chapter 1. Ppyong~
Langganan:
Postingan (Atom)


