Rasanya semua berlalu begitu cepat. Kita berjumpa dalam sebuah ketidaksengajaan, berkenalan, lalu saling merasakan perasaan dagdigdug, dan saling mengasihi satu sama lain. Setiap harinya selalu kita lewati dengan canda tawa bersama, tanpa mengijinkan satu dari kita merasakan kepahitan dunia. Semakin hari kedekatan kita semakin kokoh. kau menghadirkan banyak senyuman dalam hari-hariku. mengontrol seluruh poros hidupku dan juga mengubah kelamnya hidupku menjadi sebuah kehidupan yang bermakna. Semua yang kita lakukan selalu menjadi hal bermakna, tak ada yang biasa. Bahkan sebuah basa-basi singkat menjadi sangat berarti dalam hidupku. Semuanya menjadi ajaib. Dan tanpa kusadari, setiap harinya perasaanku semakin dalam padamu, lebih dari seorang teman.
Seiring waktu berlalu, aku menjadi over. selalu berusaha menjauhkanmu dari gadis lain yang kurasa lebih bisa membuatmu tertarik daripada aku. aku takut kehilanganmu, aku takut kau akan melupakanku. siksaan itu datang menghantamku bertubi-tubi ketika kau tak berada disampingku. aku tak tahu pasti tapi, yang aku pahami hanyalah bahwa kau ada pengendali seluruh poros hidupku. aku tak bisa jauh darimu. aku selalu membutuhkanmu setiap waktu seperti aku butuh oksigen. aku selalu merindukanmu seperti tak ada hari esok untuk merindukanmu lagu. yang kubayangkan adalah aku akan gila jika kehilangan sosokmu. salahkah jika kau menjadi prioritasku? salahku jika kau menjadi alasanku untuk melanjutkan hari esok??
tetapi... semakin lama kubersamamu, aku mulai menyadari sedikit demi sedikit bahwa sikapmu tak sama seperti sikapku saat berada disampingmu. perhatianmu pun tak sedetil perhatianku. tatapanmu tak sedalam tatapanku. juga kau pun tampak tak menomorsatukanku. apakah ini salah? apakah kau tak merasakan hal yang sama saat bersamaku?
aku tahu, mungkin kau hanya tidak terlalu paham dengan perasaanku, karna kau tak pernah meluangkan waktumu untuk memikirkanku. salahkah jika aku selalu memikirkanmu? dosakah jika aku suka menjatuhkan tetesan beningku untukmu? kau selalu meninggalkanku, kau selalu membuatku merasa kehilangan. mengapa kau tak pernah berkata jika akan pergi? yah, aku tahu aku bukan siapa-siapamu, aku tahu aku tak lebih dari teman.
Janji-janji yang kau lontarkan saat bersamaku sangat banyak, sehingga jari-jariku tak dapat menghitungnya, bahkan otakku mulai melupakan saking banyaknya janji-janjimu itu. tapi mengapa? kau tak pernah tepati itu. kau sering menyakitiku. tapi sering juga kumaafkan. disini... disini aku hanya bisa terdiam. memandangmu yang tak pernah peka. seberapa tidak pentingkah diriku? apa aku hanya sebuah pengabaian dimatamu?
apa aku hanya mainanmu? bonekamu yang selalu mengikuti aturan mainmu walau terkadang itu menyakitiku? dimana hati nuranimu? mengapa kau biarkan aku tersakiti padahal aku tak pernah membiarkanmu merasakan sakit? aku tak punya hak untuk menuntut lebih. aku tak punya hak untuk berkata aku merindukanmu. kau sering skali menciptakan jarak antara kita. aku tak dapat berbuat apa-apa selain mengikuti semua aturan mainmu.
tak sadarkah kau selalu menyakitiku? tak sadarkah bahwa caramu selalu melukai hatiku dan meninggalkan luka yang mungkin takkan pernah sembuh? tak sadarkah pula bahwa perkataanmu seringkali menghancurkan impianku menjadikanku manusia yang tak dapat berharap. apakah aku tak pantas bahagia? apa aku tak dapat menikmati apa itu cinta darimu? aku muak. aku mencintai seseorang yang belum tentu juga mencintaiku.
aku bukan siapa-siapa. aku hanya sekedar teman, tak lebih dan tak akan pernah melebihi batas pertemanan tsb. sebenarnya, aku ingin tahu, dimana kau posisikan aku di dalam hatimu? dimana kau letakkan hatiku yang selalu kuberi untukmu? mengapa kau tak pernah menjawab pertanyaanku. apa ada yang salah dari pertanyaanku? apakah kau sudah mempunyai seseorang dalam hatimu? bisakah aku tahu siapa itu?
semakin lama aku sadar, ini salahku. salahku yang menganggap kau milikki. yang bermimpi bisa menjadikan kau lebih dari sekedar teman. tapi apakah aku salah jika perasaanku padamu tumbuh semakin dalam dan melebihi batas? mencintaimu sangat berarti dalam hidupku.
mungkin aku memang terlalu banyak berharap, aku tak pernah sadar dengan posisiku dan akupun menyadari bahwa letakmu sungguh jauh dari jangkauanku. akulah yang bodoh disini. aku yang terlalu berharap.
tapi kau tak perlu cemas, tak perlu memikirkan perasaanku karna aku sudah terbiasa kau sakiti. aku bisa sendiri jika itu membuatmu bahagia. menjauhlah. aku ingin menyendiri. disini lukaku semakin dalam. aku ingin menyembuhkan lukaku disana. aku ingin menemukan cinta baruku. maaf merepotkanmu selama ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar